Bagian 1

Kembang yang mekar

Perasaan manusia begitu rumit, setidaknya saat ini itulah yang kurasakan. Mungkin karena aku berusaha mencari tau bagaimana perasaan mereka, mungkin juga karena selama ini aku sudah terlalu lama membuang perasaan mereka dan hanya mempedulikan diriku. Shinna dan Cosca sudah semakin dewasa, mereka juga mungkin sudah disibukkan dengan dirinya masing-masing. Ada suatu masa dimana aku merasa sepi, bukan karena aku hidup sendiri hanya saja kita semua seperti tidak terhubung satu sama lain meski kita adalah keluarga.

Namaku Alfa Runmaji, usiaku kini menginjak 22 tahun. Aku seorang anak kakak perempuan yang memiliki sepasang adik kembar laki-laki dan perempuan, Shinna Runmaji dan Cosca Runmaji. Teman-teman dikampusku menganggap namaku aneh dan selalu menanyakan arti dari namaku. Kami bertiga memiliki nama Runmaji yang merupakan gabungan dari nama kedua orangtua kami, Goro Atmaji dan Swastika Runa. Run dari kata Runa dan Maji dari nama ayah Atmaji. Semua ini adalah ide dari ibu kami, ia yang sangat membenci mata pelajaran fisika dimasa mudanya entah mengapa justru memberi nama anaknya dengan sesuatu yang berbau fisika. Alfa, shinna dari sinus, dan Cosca dari Cosinus. Suatu ketika aku menanyainya, dan ibu menjawab dengan sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali, “ ah, ibu seorang yang memikirkannya baik-baik. Jadi berbanggalah ya!”. Aku pikir jawaban macam apa itu, sama sekali tidak bisa kuterima.

Pagi itu aku melihat hubungan Shinna dan Cosca semakin merenggang. Mereka jarang sekali mengobrol selayaknya anak kembar. Mungkin karena mereka kembar laki-laki dan perempuan, sehingga tetap saja banyak hal yang tidak bisa mereka bicarakan bersama. Aku ingat betul, ibu selalu memperlakukan mereka berdua sangat istimewa. Selayaknya anak kembar, mereka selalu dibelikan barang-barang yang sama. Pakaian, sepatu, tas, mainan, apapun itu sampai-sampai aku merasa geli melihat mereka seperti anak kembar. *mereka memang anak kembar*. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, mereka saat itu juga tidak protes tentang cara ibu memperlakukan mereka. Mungkin karena mereka masih anak-anak sehingga mereka masih mudah diatur.

“Apa kalian bermusuhan?”, aku menanyai Shinna yang sedang mengikat tali sepatunya.

“hmm, kenapa?”, Shinna menjawabku tanpa menghiraukan keberadaanku.

“kalian jarang mengobrol”.

“kenapa aku harus mengobrol jika aku tidak memerlukannya?”.

“karna kami kembar?”, Shinna buru-buru menangkisku sebelum aku berhasil meresponnya.

“kami memang kembar, tapi kami itu berbeda dan punya jalan masing-masing”.

Saat itu, tidak ada yang bisa aku katakan kepada Shinna. Aku menerima jawaban Shinna begitu saja tanpa banyak berpikir. Akupun kembali ke kamarku dan mengemasi barang-barangku, sebab esok senin aku harus segera kembali ke kampus. Hanya sebulan sekali aku bisa mengunjungi rumah, kadang bahkan 2 atau 3 bulan sekali.

Beberapa jam yang lalu, ia menangis di pelukanku. Wanita setengah abad itu, ubannya mulai banyak. Ia seperti menyesali masa lalunya, dan tidak tau kemana akan melangkahkan kakinya. Ia sedang memikul beban yang berat, meski ia hanya bisa menangis dihadapanku namun wajahnya mengatakan semua itu padaku.

“jaga dirimu baik-baik. Ibu akan sangat merindukannmu”

“baik bu, kalau begitu aku berangkat dulu”.

Sebentar lagi aku akan sampai di ibu kota, dan kembali menjalani hidupku sebagai mahasiswa biasa yang berjuang menuntut ilmu sambil bekerja sampingan sebagai guru les.

“Hallo bu, aku sudah sampai…”

“syukurlah… jangan lupa hangatkan makananmu ya supaya tidak bau”

“iya bu, setelah mandi aku akan segera makan”. Diujung telpon itu, wanita itu sepertinya masih menangisi sesuatu. Sesuatu yang belum bisa kupastikan. Akupun segera menghangatkan bekal yang dibawakan ibu setiap kali aku pulang kerumah, tentu saja supaya aku juga bisa berhemat. Sebab hidup di kota besar ini sungguh membutuhkan biaya yang tidak sedikit, aku pun harus pandai menjaga diriku agar aku bisa bertahan.

Sesungguhnya, aku merasa sangat bersyukur sebab aku bisa melanjutkan pendidikanku sebagai mahasiswa ilmu sosial walaupun latar belakang pendidikanku adalah siswa eksak. Tapi sebenarnya itu karena aku tidak terlalu pandai saat di SMA dulu, meskipun aku berada di SMA favorit di kota kelahiranku tersebut nilai-nilai jurusanku sangat pas-pasan. Dan keputusanku untuk memilih bidang sosial saat ini pun juga kupikir sesuatu yang tidak kurencanakan. Sejak kecil sampai SMP, aku selalu bercita-cita menjadi seorang guru. Aku ingat betul, dan ibu melihat tingkahku yang sering berdandan seolah aku seorang guru, memakai sandal hak tinggi, memegang buku, sambil bertingkah menjelaskan tulisan di papan tulis. Akan tetapi entah mengapa, setelah SMA keinginan itu memudar meski aku sempat berusaha meraihnya dan akhirnya gagal. Saat itu aku ingin jadi guru bahasa inggris, tapi aku gagal di seleksi masuk nasional dan justru lolos untuk pilihan keduaku yang notabene kuputuskan tanpa berpikir panjang saat itu. Aku saat itu, sepertinya tidak berusaha sunggung-sungguh untuk lolos seleksi mejadi guru. Dan itu meberi sedikit penyesalan untuku sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s