Setiap manusia mungkin punya masalahnya masing-masing. Apapun itu, adakalanya hal tersebut membuat seseorang menjadi frustasi. Tak terkecuali diriku. Disaat aku betul-betul frustasi, aku tidak bisa memikirkan sesuatu dengan jernih. Olehkarena itu, kadang aku tidak ingin memikirkannya. Apakah hal itu benar? Entahlah.. kenyataannya masalah tdak akan selesai tanpa kita berusaha untuk memecahkannya. Aku merasa yang kulakukan selama ini mungkin hanyalah lari, lari dan menyangkal semua masalah yang datang menghampiriku. Aku tidak ingin menganggap itu sebagai masalah, akan tetapi nyatanya ia bagai duri didalam daging. Sangat menggangu dan menyakitkan. Seseorang mengatakan bahwa masalah akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih kuat, seumpama anak panah yang ditarik kuat kebawah, saat dilepaskan ia akan melesat tinggi dan jauh. Aku tidak mengatakan bahwa ini sesuatu yang salah, akan tetapi mungkin ini sebuah motivasi. Sebab yang kualami, aku merasa masalah tidak berfaedah apa-apa ketika kita tidak memikirkannya baik-baik. Ketika kita tidak menerima kehadirannya dengan ikhlas, bahkan menyangkalnya, ketika kita mulai berpikir ia akan berlalu bersama dengan waktu, saat itulah aku mulai berpikir, masalah hanya akan membuat seseorang makin terpuruk. Ketika aku sedang merenung, aku bertanya pada diriku sendiri, apakah hidup yang ku jalani ini sudah benar, apakah cara berfikirku menilai kehidupan ini sudah benar. Tapi yang kulakukan selama ini ternyata hanya lari, dan menikmati kepalsuan, menipu diriku, dan tidak mau memandang sebuah masalah sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Pada saat yang bersamaan, mungkin itu karna ketidakberdayaanku. Apakah itu artinya aku telah menyerah pada kehidupan ini? Sebenarnya, aku patut untuk bersyukur atas kehidupan yang selama ini aku jalani. Aku adalah pribadi yang tidak terlalu suka bergaul dan cenderung menikmati kesendirianku. Aku merasa nyaman jika tidak ada seorangpun yang mengganggu, aku asyik dengan diriku sendiri meski sebenarnya aku tidak antisosial. Berkat kepribadianku ini, aku jadi selektif soal memilih teman bergaul, dan untungnya aku selalu bertemu dengan orang-rang baik yang selalu mendukungku. Pernah aku punya seorang teman yang menunjukan aku sebuah jalan. Sebuah jalan yang mungkin selama ini aku cari-cari. Sebuah jalan yang mungkin bisa mempertemukanku dengan kebahagiaan. Akan tetapi, aku malah mengabaikannya. Aku malah meninggalkan dan menghidari orang tersebut dengan alasan demi kenyamananku. Apakah kini aku menyesal? Entahlah, aku juga tidak yakin dengan keputusan yang telah ku ambil itu. Hanya saja, aku ingin tau, ingin melihat sendiri bagaimana jalan itu ketika aku melaluinya dengan cara yang berbeda. Bukan berarti aku ingin menolak mentah-mentah nasihatnya, akan tetapi aku merasa tidak cukup bagiku untuk hanya mengikuti tanpa aku memahami apa yang aku jalani tersebut. Mungkin aku salah, mungkin. Kenyataannya seringkali aku dihantui rasa bersalah karna telah mengacuhkan teman seperti itu. Aku tidak meragukan ketulusannya, aku meragukan diriku sendiri. Aku ingin mengatakan pada diriku sendiri, agar aku tidak lagi lari dari masalah yang saat ini sedang aku hadapi, dan aku juga tidak ingin menyerah untuk meraih kebahagiaan. Kebahagiaan yang bukan untuk diriku semata, akan tetapi juga untuk orang-orang yang aku sayangi. Mereka yang ingin aku bahagiakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s