selalu berinteraksi adakalanya membuat indra kita kurang peka dan mengabaikan sesuatu yang esensi.

sering berjumpa, sering pula bertengkar. selalu bersama, bukan tidak mungkin rasa bosan menghampiri. seperti sebuah tanaman, ia mesti dipupuk agar tumbuhnya sempurna dan berhasil yang memuaskan. 

begitu pula dalam sebuah interaksi, kita harus pandai berkreasi agar komunikasi tak terasa hambar. ini hanya soal trik, bukan sesuatu yang wajib.

sebuah interaksi harus dipupuk dengan komunikasi yang baik, yakni komunikasi yang bisa mewujudkan keterbukaan satu sama lain. komunikasi untuk mendalami perasaan satu sama lain bukan semata mencari sebuah solusi. namun demikian dengan komunikasi yang terjalin dengan baik, bukan berarti solusi tidak akan hadir. justru ia bisa saja hadir dengan sendirinya. 

saya teringat salah satu mata kuliah dulu, yang menjelaskan tentang teori motivasi yang salah satunya menyasar pada needs/ kebutuhan seseorang. salah satunya adalah apresiasi. seseorang itu walaupun tidak meminta, ia sebenarnya butuh sebuah apresiasi apalagi kalau dia sudah bekerja keras. olehkarenanya orang cenderung lebih giat dan semangat jikalau ia mendapat sebuah apresiasi/ penghargaan apalagi jika diberikan oleh orang yang istimewa. lalu seperti apa bentuk apresiasi tersebut? ia bisa saja berbentuk pujian, hadiah, atau sekedar pengakuan yang menunjukan bahwa kehadirannya sangat bermanfaat.

akan tetapi sebaliknya jika kebersamaan tidak disertai dengan komunikasi yang baik, maka hubungan yang terjalin adalah kontak yang dingin dan suasanya tidak nyaman. terlebih ketika harus dihadapkan dengan permasalahan, ketidakterbukaan akibat komunikasi yang buruk malah menimbulkan kecurigaan satu sama lain dan berujung pada drama saling menyalahkan. disanalah akhirnya muncul ketidak sinergian yang fatalnya dapat mengantarkan pada jurang perpecahan.

agaknya, hal itulah yang membuat orang adakalanya memberikan waktu bagi dirinya untuk berpikir. menjernihkan hati dan pikirannya, membenamkan diri dalam perenungan. maka jika ia meminta waktu sejenak untuk menepi, bukan berarti ia merasa benci. hanya saja sesuatu mungkin perlu untuk dipikir berulang kali, menata kembali bagaimana cara terbaik untuk bereaksi dan merespon situasi. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s