Dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan berjalan sebagaimana mestinya. Tentu ia akan menemui tantangan dalam perjalanannya,  tetapi bisa saja bahkan berjalan lebih lancar dari perkiraan kita. Katakanlah kita bersandar pada setiap ihtiar,  dan mengukur sejauh mana kesungguhan kita, maka tidak cukup jika kita hanya menilai sesuatu dari hasil akhir semata. Setiap peluh dan kesah, setiap keringat dan air mata,  tentu adalah komponen yang berperan dalam memberi nilai pada setiap kesungguhan yang kita lakukan.

Suatu ketika,  seorang anak menangis dengan sekuat tenaganya. Seorang yang merasa simpati lalu menanyainya,  ia pun berusaha menenangkannya meskipun ia memiliki feeling jika tingkat keberhasilannya zero persen bahwa si anak akan menghentikan tangisannya. Dalam hal ini,  meskipun si anak tidak akan berhenti menangis tapi saya menilai jika dia memiliki nilai kesungguhan yang sangat berharga. Hal ini dibandingkan pada seseorang yang mengamini ketidakberdayaannya untuk menenangkan si anak dan menyerahkannya pada waktu yang kelak membuat si anak terhenti dari tangisannya karna kelelahan barangkali.

Mengapa kesulitan itu tidak semestinya mengurangi naluri kita untuk mencoba suatu hal,  adalah karna kita patut mempercayai bahwa setiap tindakan yang dijiwai dengan niatan yang baik kelak akan menemukan jalannya untuk kembali kepada kita. Ia berdasarkan time zone and termnya akan berbalik mengenai kita,  sekalipun kita tidak tau cara kerjanya. 

Dalam suatu kondisi,  ketika kita dibawah suatu tekanan dituntut untuk segera bertindak. Adakalanya kita tergagap sebab tak tau entah bagaimana mesti merespon suatu kejadian. Dan dalam sekejap,  kita pun bertindak secara spontan seperti lari dari kenyataan atau menghadapinya. 

Dalam problem yang saya alami,  ketika kita hendak menyampaikan perasaan kita, keluh kesah kita,  komplen kita pada seseorang,  dan ternyata yang bersangkutan menolak untuk mendengarkannya,  apakah dalam hal ini saya harus berhenti berbicara dan memikirkan kata agar ia dapat mencapai perasaannya? 

Kita punya tingkat ketahanan,  punya titik dimana harus bisa menentukan kapan harus berhenti dan kapan mesti berjuang hingga darah penghabisan. Kapankah itu?  Pada dasarnya saya mungkin terlalu lelah untuk mendorong diri sy agar bisa membuat seseorang memahami,  meski sy sadar ia tak ada minan mendengarkan apalagi memahami. Lalu bagaimana jika ia karena kebodohan seseorang?  Mungkin sy hanya khawatir selagi kita bersama jurang diantara kita semakin melebar, dan pengabaian dianggap sebagai solusi. Jika tak ada kata yang menjembatani perasaan kita,  mungkinkah jika kita akan terus bersama? ??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s