Kita tentu punya mimpi atau minimal keinginan-keinginan yang ingin kita wujudkan dalam hidup ini. Seringkali ketika pikiran kita sudah dipenuhi oleh keinginan tersebut,  segala cara kita tempuh agar semakin dekat dalam mencapainya. Tak terkecuali bagi seorang muslim,  ketika ia memiliki suatu hajat ikhtiar dilakukan dengan mengerahkan seluruh energi dan pikiran. Belum lagi ditambah dengan ikhtiar langit berupa doa2 ataupun amalan2 yang sekiranya dapat mempercepat terwujudnya impian tersebut. Misalnya saja rajin shalat tahajud,  shalat duha,  banyak sedekah,  puasa senin kamis, dan mengikuti berbagai ibadah sunah dengan niatan agar Allah melancarkan dan mengabulkan harapannya.

Saya pun pernah mengalami hal demikian,  ketika ambisi saya mendorong sy berikhtiar,  putar otak, juga menggiatkan ibadah dan mendekat kepada sang kuasa. Saya kira hal ini adalah hal positif sejauh upaya yang kita lakukan menempuh cara2 yang halal lagi diridhoi Allah. Hanya saja menjaga semangat ibadah tersebut agar tidak sekedar niat yang seolah ada maunya bukanlah perkara yang enteng. Terlebih ketika kita berhasil mencapai apa yang kita impikan selama ini. Usaha berbuah hasil nyatanya ibadah jadi menurun. Ini bukti bahwa kenikmatan dapat membuat kita menjadi lengah. Akan tetapi,  inilah manusia tempatnya lupa. Sebab menurut saya yang namanya keberkahan itu hadir manakala kita dapat istiqomah dalam kebaikan. Jika semangat kita mengendur,  yang masih bisa disyukuri adalah ketika kita menyadarinya dan bergegas memperbaiki kelemahan dan kelalaian kita tersebut.

Menyadari bahwa sesuatu perlahan menenggelamkan kita,  menjauhkan kita dari ridho Allah adalah sesuatu yang tak mudah. Apalagi ketika nikmat tersebut terus menerus membuaikan kita, membuat kita terus saja berkilah dan mencari alasan pembenaran atas kelalaian kita. Seolah apa yang kita capai adalah buah kerja keras kita semata.

Sungguh menyakitkan….

Nikmat yang menghijab kita dengan pemilik nikmat tersebut yakni Allah SWT. 

Kita mungkin mendapat kemudahan atas nikmat tersebut,  seolah kita bisa tanpa bantuan Allah. Kita merasa nyaman seolah sulit bagi Allah mengambil nikmat tersebut.

Mudah bagi Allah mengambil apa yang kita banggakan di dunia ini. Akan tetapi memiliki nikmat yang membutakan nikmatnya dekat dengan sang khaliq adalah kerugian yang amat sangat menyakitkan jika kita menyadarinya.

Hati kita terasa hampa,  kosong,  sepi,  seolah ada yang kurang dalam diri kita meskipun kita bergelimang kenikmatan. Mungkin ia harta,  jabatan, popularitas,  semua yang hanya kilauan dunia yang semu. 

Jika kita sadar bahwa dekat denganNya jauh lebih indah,  tentu kita lebih memilih kehilangan semuan kemewahan dunia yang kita miliki. Mungkin kita tak sudi dan tak bernafsu pada kemewahan itu sendiri. Astaghfirulloh….

Semoga Allah melimpahkan kepada kita kenikmatan yang membuatnya semakin ridho kepada kita. Sebab karnanya bertambah pula rasa syukur dan rasa menghamba kita di hadapanNya. Dan bukanlah kita dikaruniai nikmat yag menjadikan kita pembangkang yang nyata. Yang jauh dari kasih sayangNya. Aamiin yaa robbal’alamin. Ya Allah perbaikilah kekurangan kami. Sesungguhnya kami tak bisa hidup tanpa belas kasihMu… 😭 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s